Waktu Yang Terus Bejalan

Tentang Waktu
Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Damar yang sering mengeluh tentang waktu. Baginya, waktu terasa lambat saat ia menunggu, tetapi terlalu cepat saat ia merasa bahagia. Ia sering berkata, “Seandainya aku bisa mengatur waktu sesuka hati.”
Suatu sore, saat berjalan sendirian, Damar bertemu seorang kakek tua yang duduk di bangku taman. Wajahnya tenang, matanya penuh kebijaksanaan. Kakek itu bertanya, “Mengapa wajahmu terlihat gelisah, Nak?”
Damar pun menjawab, “Aku lelah dengan waktu. Kadang ia berjalan lambat, kadang terlalu cepat. Aku ingin bisa mengendalikannya.”
Kakek itu tersenyum lalu memberikan sebuah jam saku tua. “Cobalah gunakan ini. Tapi ingat, setiap pilihan memiliki akibat.”
Dengan penuh rasa penasaran, Damar menerima jam itu. Keesokan harinya, saat ia merasa bosan di kelas, ia memutar jarum jam tersebut—dan tiba-tiba waktu melaju cepat. Pelajaran selesai dalam sekejap. Damar senang.
Hari berikutnya, saat ia bersama teman-temannya, ia memutar jam ke arah sebaliknya. Waktu melambat. Tawa mereka terasa panjang dan menyenangkan. Damar semakin sering menggunakan jam itu untuk mengatur hidupnya.
Namun, perlahan ia mulai merasa aneh. Ia kehilangan momen-momen kecil yang seharusnya berarti. Ia tak lagi sabar menunggu, tak lagi benar-benar menikmati sesuatu tanpa bantuan jam itu. Bahkan, ia merasa hari-harinya kosong.
Suatu hari, jam itu tiba-tiba berhenti. Damar panik. Ia berlari ke taman untuk mencari kakek itu, namun tak pernah menemukannya lagi.
Dalam keheningan, Damar akhirnya menyadari sesuatu: waktu bukan untuk dikendalikan, melainkan untuk dijalani. Setiap detik memiliki makna jika kita benar-benar hadir di dalamnya.
Sejak saat itu, Damar berhenti mengejar waktu. Ia mulai menghargai setiap momen—baik yang cepat maupun yang lambat.
Karena ia mengerti, waktu tidak pernah salah berjalan. Kitalah yang harus belajar berjalan bersamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Rintik Hujan"

"perjalanan hidup"

Biola